Pages - Menu

Selasa, 18 Februari 2014

Dapur Semarang

Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah tidak hanya dikenal memiliki spot-spot wisata yang terkenal indah, Semarang juga dikenal sebagai pusat kuliner untuk para pemburu makanan lezat di Indonesia.
Kuliner khas Semarang memang terkenal mampu memanjakan lidah para penikmat kuliner.
Di Jakarta pun restoran-restoran yang menawarkan kuliner khas Semarang bisa ditemui cukup banyak. Namun untuk menemui rasa otentik yang membius itu memang tidak selalu mudah.
Untungnya, pencarian saya dipermudah dengan adanya restoran yang menawarkan kuliner khas Semarang dengan rasa cukup otentik.

Dapur Semarang namanya. Ya, cukup jelas apa yang mereka tawarkan.


Awalnya saya mengetahui restoran ini karena mereka memasang promo di salah satu website diskon ternama. Dengan harga hanya 85 ribu rupiah bisa menikmati 4 jenis menu, dan ditutup dengan Es Cao Semarang yang segar. Tak ada salahnya mencoba.

Berlokasi di padatnya kawasan kuliner di Gading Food City, restoran ini bisa dicari cukup mudah. Mereka memasang spanduk yang cukup besar, dan juga banner tertuliskan nama restoran mereka.
Interior yang serba hijau dan putih mendominasi restoran ini.
Karena berlokasi di Gading Food City bisa ditebak bahwa ini restoran outdoor. Suasananya cukup menyenangkan, karena di Gading Food City ini cukup sering menyajikan live music.
Serasa menikmati makan di cafe jadinya. tongue
Jumlah pelayan cukup banyak, dan kebersihan restoran bisa diacungi jempol pula.

Baik, mari mulai menyantap.

Sebagai appetizer saya pesan Tahu Pong Semarang. Untuk ukuran appetizer ini cukup berat. 6 buah tahu pong yang ukurannya cukup besar, ditambah 4 potong gimbal udang, dan telor bulat goreng yang dibelah dua. Disajikan dengan petis udang yang encer dan sambal uleg dari cabai hijau.
Tahunya sendiri renyah dan memang kosong (kopong) karena itu disebut tahu pong. Tahunya cenderung tawar, karena memang harus dicocol dengan petis udangnya. Gimbal udangnya juga renyah. Cukup enak. Kalau telornya hanya rasa telor rebus biasa yang digoreng. Semuanya akan lebih berasa setelah bertemu dengan petis udangnya. Sambal uleg cabai hijaunya pedas sekali. Jadi yang tidak suka pedas lebih baik cukup dengan petis udangnya saja.

Sebagai pecinta nasi goreng tentu saya penasaran mencoba Nasi Goreng Kampung yang mereka tawarkan.
Nasi Goreng Kampung
 Nasi Goreng Kampung
Ini adalah nasi goreng khas Semarang dengan isiannya sayur dan juga ayam goreng yang disuwir. Rasanya manis dan gurih. Mantap di lidah dan lezat ketika memasuki tenggorokan. Porsi yang ditawarkan pun cukup melimpah, apalagi isiannya bisa terbilang penuh dan tidak pelit. Saya pribadi suka nasi goreng ini.

Puas mencoba menu dengan daging ayam, saya tidak lupa pesan jenis daging yang lain. Pesanan saya jatuh ke Sate Sapi.

Sate Sapi yang disajikan tidak cuma sate daging sapi, tapi ada juga hati sapi. Seporsi sate sapi ini berisi 10 tusuk, dan ukurannya memang lagi-lagi tidak terbilang pelit. Daging sapi yang cukup besar dan bumbu saus kacangnya pun melimpah dan enak.

Menu yang berikutnya ini adalah jenis daging lainnya yang saya pesan. Setelah ayam dan sapi, tidak lengkap kalau tidak mencoba daging kambing. Walaupun mungkin setelah selesai menyantap semua menu ini saya bisa kena asam urat. mad
Bistik Kambing
 Bistik Kambing
Bistik Kambing muncul terakhir sebagai pemuas dahaga saya akan daging-dagingan. Ini baru hidangan fusion sejati. Bistik yang berasal dari kata "Biefstuk" yang berarti potongan daging sapi, kini hadir di meja saya dengan diganti daging kambing. Bistik Kambing ini unik, karena merupakan Bistik ala Belanda yang bahan utamanya diganti daging kambing, dengan citarasa manis gurih yang dijamin akan membuat ketagihan. Dagingnya empuk dan lembut. Disajikan dengan kuah bistik yang manis dan gurih, dan juga dengan potongan besar dari tomat segar. Enak sekali. Mak-nyusss!

Sebagai penutup seluruh kisah kuliner kali ini, Es Cao Semarang yang segar.
Es Cao Semarang
 Es Cao Semarang
Perut sebenarnya sudah penuh, tapi sayang sekali kalau sampai tidak mencoba Es Cao Semarang ini. Memang isinya tidak selengkap Es Cao yang asli dari Semarang. Disini isinya hanya parutan es yang disiram dengan sirup frambose, dan ditemani dengan parutan kelapa muda, potongan mangga, cincau, dan juga caonya sendiri. Sayang tidak ada selasih, nanas, dan tape, seperti Es Cao asli Semarang. 
Soal rasa terbilang segar, dan sebagai penutup makan saya rasa tepat.

Kesimpulan, dari cukup banyak restoran yang menawarkan kuliner khas Semarang bisa dibilang Dapur Semarang punya senjata yang cukup lengkap untuk "bertempur". Rasa boleh dibilang memuaskan, walau mungkin bisa diberi sedikit peningkatan sehingga jadi luar biasa.
Suasana sebenarnya cukup baik, hanya saja lokasi Gading Food City yang adalah pusat kuliner, belum lagi dengan bertebarnya restoran-restoran di La Piazza dan MKG menjadikan Dapur Semarang ini kurang dilirik.
Kalau openricers mungkin yang perantauan dari Semarang dan rindu kuliner khas Semarang, atau openricers yang penasaran dengan kuliner khas Semarang boleh dicoba ke restoran ini.

Price range makanan dari Rp. 25.000 - Rp. 38.000
Es Cao Semarang Rp. 20.000
My Meal
 My Meal
Selamat mencoba, foodies.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar