Pages - Menu

Selasa, 18 Februari 2014

Siomay Pink

Berawal dari rasa penasaran saya dengan sebuah restoran serba pink yang selalu saya lewati tiap pulang kantor, karena rute saya dari kantor ke rumah melewati daerah Permata Hijau menuju Pejompongan akhirnya saya memutuskan mampir ke Siomay Pink.


Resto yang menjagokan menu siomay ini memang unik. Mungkin ini adalah resto berkonsep unik ketiga yang saya sambangi bulan ini. 

Semua hal berbau warna pink memang menjadi karakter resto ini. Tapi pemilihan warna pink ini bukan tanpa sebab. Menyempatkan diri berbincang dengan Bapak Sriyono, owner Siomay Pink, saya mendapatkan sebuah kisah inspiratif luar biasa dari beliau. Jatuh bangun usaha Pak Sriyono membangun usaha berdagang siomay, dari sukses kemudian bangkrut, hingga ambang perceraian yang membuat beliau terpisah dari anak-anaknya menginspirasikan beliau membuat Siomay Pink.
Yup, di ambang keputusasaan, sebulan menjelang bulan puasa 2010, beliau memutar otak dan mendapat ide brilian. Yakni, kembali memulai usaha siomay keliling, tapi dengan tampilan yang eksentrik.
Diharapkan, ketika beliau menjadi eksentrik, sang anak akan mengetahui dan dirinya dapat bertemu kembali dengan dua buah hatinya setelah lima tahun berpisah tanpa kabar itu. Pak Sriyono pun memutuskan mengenakan warna pink sebagai seragam berjualan. Pernak-pernik pink pun dikenakan untuk berdagang keliling.
Usaha yang tidak sia-sia. Selain semakin dikenal masyarakat umum berkat gaya eksentriknya tersebut, beliau pun bertemu kembali dengan buah hatinya.

Sungguh kisah yang luar biasa.

Kembali ke review, Siomay Pink memang resto yang menjagokan siomay, seperti yang saya sebut di awal tadi. Tapi di Siomay Pink bisa ditemui juga menu lain, seperti batagor dan steak.
Untuk kali ini karena saya masih mempunyai acara yang harus saya datangi pada malam hari maka saya memutuskan untuk take-away.




Sembari menunggu pesanan saya disiapkan untuk take-away, saya menyempatkan diri melihat-lihat bagian dalam resto. Serba pink, dan dinding dihiasi oleh foto-foto dari Pak Sriyono semasih berjualan menggunakan sepeda keliling. Ada pula penggalan kata-kata inspiratif tercetak di dinding. Pak Sriyono sepertinya mau membagi motivasi-motivasi yang menemani perjuangan beliau dulu.

Tak ketinggalan pula, sang sepeda legendaris yang berwarna pink, yang digunakan Pak Sriyono di awal-awal berjualan dipajang di dekat pintu masuk.

Pelayanan disini boleh terbilang ramah. Walaupun jumlah pelayan hanya sedikit, mungkin hanya 2-3 orang, tapi sangat ramah. Ketika saya sedang menunggu pesanan dibungkus, saya diberi secangkir es teh, GRATIS. Saya angkat jempol untuk pelayanan ini. Bahkan sang owner, Pak Sriyono, sangat murah senyum dan ramah.
Secangkir Es Teh Gratis
 Secangkir Es Teh Gratis
Kembali ke Siomay Pinknya. Setelah sampai di rumah, saya lalu mencoba "membedah" apa sih yang membuat siomay ini beda dari siomay pada umumnya.Dijual dengan harga yang cukup lumayan, Rp. 9.000/pcs namun ukuran siomay terbilang lumayan besar.
Siomay
 Siomay
Yang ada di dalam boks styrofoam ini hanyalah 6 pcs siomay yang saya pesan campur antara siomay pink 3 pcs dan siomay biasa 3 pcs. Bisa dilihat 6 pcs siomay setelah dipotong ternyata cukup banyak, bahkan bisa dimakan 2 orang dan mengenyangkan.
Siomaynya sendiri dibuat dari ikan tenggiri. Dan terasa kalau siomay ini tidak terlalu banyak menggunakan sagu karena dagingnya saat digigit tidak terlalu kenyal, lebih cenderung empuk dan daging ikan tenggirinya sepertinya lebih banyak dalam komposisi karena begitu terasa.
Pink sampai ke dalam-dalamnya
 Pink sampai ke dalam-dalamnya
Lalu apa yang membuat warna pink di siomaynya? Tenang saja openricers, karena warna pink itu bukan dari pewarna makanan. Kalau saya rasa setelah mencicipi, sepertinya buah bit. Adonan siomaynya dicampur dengan sari buah bit sebelum dibentuk, sehingga warna pinknya sampai ke dalam, dan bukan hanya lapisan warna di luar. Rasanya enak, dan gurih. Satu-satunya kekurangan mungkin cara pengolahan ikan yang kurang baik, di beberapa bagian siomay saya mendapati tulang ikan. Tidak banyak, tapi cukup mengganggu.
Batagor
 Batagor
Yang berikutnya saya coba adalah Batagornya. Sama-sama terbuat dari bahan baku ikan tenggiri. Cuma sepertinya kurang variasi menurut saya. Batagor pada dasarnya adalah Bakso Tahu Goreng, tapi yang disajikan minus tahu. Rasa boleh terbilang lumayan enak untuk batagornya. Saya lupa bandrol harganya, tapi lebih murah dari siomaynya, sepertinya antara Rp. 7.000-8.000/pcs. Ukuran tak bisa terbilang besar, sama seperti batagor yang dijual di gerobakan umumnya. Yang ada di foto adalah 6 pcs batagor yang sudah dipotong-potong. Tidak begitu banyak kan?
Saus Kacang
 Saus Kacang
Saus kacangnya boleh diacungi jempol. Teksturnya benar-benar halus, tanpa ada serpihan kasar kacang terasa. Yang dibungkus ini sudah tercampur dengan kecap dan saus sambal, jadi saya tidak bisa merasakan rasa asli sausnya tanpa campuran kecap dan saus, tapi sepertinya enak.
Siomay dan saus kacang, on the plate
 Siomay dan saus kacang, on the plate
Setelah dicampur semuanya dan disantap, hmm...enak juga. Saus kacang yang sudah tercampur sambal berpadu dengan kelembutan dan empuknya siomay dan batagor, it's exquisite! You should try!

Overall, inilah siomay yang sempat jadi fenomena dan perbincangan. Keunikan memang terasa dari siomaynya, dan tentunya dari restonya sendiri. Sayang saya tidak bisa bicara banyak soal restonya karena saya hanya take-away. Namun hanya dari 10 menit yang saya habiskan ketika menunggu pesanan, bisa dibilang saya mengalami momen-momen yang menyenangkan. Pelayanannya top. Nice hospitality. And the food is quite good too.
Jadi foodies yang suka siomay, suka warna pink, datang ke Siomay Pink bisa jadi pengalaman unik tersendiri. So why not giving it a try?

1 komentar: